LirikLagu Percayakan Padaku Sheila On 7, Saat mata terhalang oleh malam Tidur dan berkembanglah Saat sang pagi kembali menari
JAKARTA Lagu "Percaya Padaku" dari Ungu dirilis pada 2010. Singel ini terdapat dalam album mereka bertajuk 1000 Kisah Satu Hati. Album tersebut merupakan album keenam milik grup musik Ungu. Baca juga: Lirik dan Chord Lagu Di Belakangku dari Peterpan. Berikut lirik dan chord lagu "Percaya Padaku" dari Ungu. INTRO. C G Am F C
Sipenyanyi dalam lagu ini juga tak memperdulikan masa lalu si wanita dan hanya ingin selalu bersamanya. Diketahui lagu ini masuk dalam Top Hits Indonesia di aplikasi streaming musik Spotify. Berikut lirik lagu dan terjemahan lagu Waste It on Me - Steve Aoki feat BTS. You say love is messed up Kau bilang cinta itu kacau You say that it don't work
TRIBUNVIDEO.COM - Chord gitar lagu Virzha - Aku Lelakimu [intro] G D/F# Bm A G A. G D Datanglah bila engkau menangis. G D Ceritakan semua yang engkau mau. A/C# Bm A E A Percaya padaku aku lelakimu. G D Mungkin pelukku tak sehangat senja. G D Ucapku tak menghapus air mata. A/C# Bm A E A Tapi ku di sini sebagai lelakimu [chorus] D Bm Akulah yang
.
Intro Am Dm E.. F Dm E Am E.. Am Dm ibu.. ceritakan padaku.. G C tentang.. indahnya bunga.. F Dm ibu.. ceritakan padaku.. E tentang.. isi dunia.. Am Dm ibu.. jangan pernah kau bosan.. G C mene..mani.. aku.. F -Em Dm ibu.. jangan pernah kau lelah.. E Am menuntun langkahku.. Int. F Dm E Am Reff Dm G aku hanya bisa.. meraba C F tanpa bisa melihat.. indahnya bunga Dm E aku hanya mendengar.. tentang cerita Am A keindahan dunia.. ooo.. Dm G aku hanya mengenal.. dengan meraba C F tentang semua benda.. di dunia Dm E terima kasih ibu.. engkau yang selalu.. Am mengasihi aku.. F G ibu.. engkaulah mataku C F ibu.. engkaulah malaikatku Dm E ibu.. engkaulah segalanya Am di dalam hidupku.. Musik Dm G C F Dm E Am A Dm G C F Dm E Am E.. Am Dm ibu.. ceritakan padaku.. G C tentang.. indahnya bunga.. F Dm ibu.. ceritakan padaku.. E tentang.. isi dunia.. Am Dm ibu.. jangan pernah kau bosan.. G C mene..mani.. aku.. F -Em Dm ibu.. jangan pernah kau lelah.. E Am menuntun langkahku.. Int. F Dm E Am Reff Dm G aku hanya bisa.. meraba C F tanpa bisa melihat.. indahnya bunga Dm E aku hanya mendengar.. tentang cerita Am A keindahan dunia.. ooo.. Dm G aku hanya mengenal.. dengan meraba C F tentang semua benda.. di dunia Dm E terima kasih ibu.. engkau yang selalu.. Am mengasihi aku.. Dm G aku hanya bisa.. meraba C F tanpa bisa melihat.. indahnya bunga Dm E aku hanya mendengar.. tentang cerita Am A keindahan dunia.. ooo.. Dm G aku hanya mengenal.. dengan meraba C F tentang semua benda.. di dunia Dm E terima kasih ibu.. engkau yang selalu.. Am.. mengasihi aku.. - ===ORIGINAL CHORD=== - Intro Fm Am C.. C Am C Fm C.. Fm Am ibu.. ceritakan padaku.. D G tentang.. indahnya bunga.. C Am ibu.. ceritakan padaku.. C tentang.. isi dunia.. Fm Am ibu.. jangan pernah kau bosan.. D G mene..mani.. aku.. C -Cm Am ibu.. jangan pernah kau lelah.. C Fm menuntun langkahku.. Int. C Am C Fm Reff Am D aku hanya bisa.. meraba G C tanpa bisa melihat.. indahnya bunga Am C aku hanya mendengar.. tentang cerita Fm F keindahan dunia.. ooo.. Am D aku hanya mengenal.. dengan meraba G C tentang semua benda.. di dunia Am C terima kasih ibu.. engkau yang selalu.. Fm mengasihi aku.. C D ibu.. engkaulah mataku G C ibu.. engkaulah malaikatku Am C ibu.. engkaulah segalanya Fm di dalam hidupku.. Musik Am D G C Am C Fm F Am D G C Am C Fm C.. Fm Am ibu.. ceritakan padaku.. D G tentang.. indahnya bunga.. C Am ibu.. ceritakan padaku.. C tentang.. isi dunia.. Fm Am ibu.. jangan pernah kau bosan.. D G mene..mani.. aku.. C -Cm Am ibu.. jangan pernah kau lelah.. C Fm menuntun langkahku.. Int. C Am C Fm Reff Am D aku hanya bisa.. meraba G C tanpa bisa melihat.. indahnya bunga Am C aku hanya mendengar.. tentang cerita Fm F keindahan dunia.. ooo.. Am D aku hanya mengenal.. dengan meraba G C tentang semua benda.. di dunia Am C terima kasih ibu.. engkau yang selalu.. Fm mengasihi aku.. Am D aku hanya bisa.. meraba G C tanpa bisa melihat.. indahnya bunga Am C aku hanya mendengar.. tentang cerita Fm F keindahan dunia.. ooo.. Am D aku hanya mengenal.. dengan meraba G C tentang semua benda.. di dunia Am C terima kasih ibu.. engkau yang selalu.. Fm.. mengasihi aku..
ibu ceritakan padakutentang indahnya bungaibu ceritakan padakutentang isi duniaibu jangan pernah kau bosanmenemani akuibu jangan pernah kau lelahmenuntun langkahkuaku hanya bisa merabahtanpa bisa melihat indahnya bungaaku hanya mendengartentang cerita keindahan duniaaku hanya mengenal dengan merabahtentang semua benda di duniaterima kasih ibuengkau yang slalu mengasihi akuibu engkaulah matakuibu engkaulah malaikatkuibu engkaulah segalanya di dalam hidupkuibu jangan pernah kau bosanmenemani akuibu jangan pernah kau lelahmenuntun langkahkuaku hanya bisa merabahtanpa bisa melihat indahnya bungaaku hanya mendengartentang cerita keindahan duniaaku hanya mengenal dengan merabahtentang semua benda di duniaterima kasih ibuengkau yang slalu mengasihi akuibu engkaulah matakuibu engkaulah malaikatkuibu engkaulah segalanya di dalam hidupku
Setahun lalu saya menulis 11 naskah drama tentang Ibu. Kesebelas naskah itu adalah dokumentasi estetik dan artistik dari 11 kisah ibu yang nyata. Mereka adalah pejuang kehidupan yang jauh dari spotlight panggung. Saya berbicara dengan mereka, mendengarkan, menuliskan kisah mereka. Suara suara yang selama ini belum terdengar jadi terdengar. Kisah kisah yang terpendam, muncul ke permukaan. Trauma trauma yang dalam, tercurahkan dan tersalurkan melalui teater. Dalam perjalanan menulis 11 naskah itu, saya menemukan banyak kisah yang lebih dari sekedar kisah perjuangan semata. Namun ada rahasia rahasia kehidupan yang jauh lebih dahsyat dari apa yang saya bayangkan. Sebelum menulis naskah saya melalukan wawancara, riset dan observasi mendalam terhadap karakter. Mereka tidak hanya tumbuh di kepala saya sebagai karakter, namun sebagai kisah itu sendiri yang lengkap dengan plot twist masing masing. Tidak ada yang klise dalam realita, sebab yang saya kira klise ternyata adalah bukan klise jika itu kenyataan. Semisal ada Ibu yang berjuang mencari penghidupan dengan menjadi tukang batu, bagi orang luar barangkali ada pikiran semua ibu juga berjuang mencari penghidupan. Namun yang berbeda adalah sebuah kisah di balik perjuangan itu. Mengapa menjadi tukang batu, ada apa di balik keputusan itu, selain karena faktor ekonomi. Selain dari alasan mencari ada Ibu yang hidup dalam trauma berpuluh tahun, masih hingga sekarang, yang dihantui kekerasan dan hidup dalam kekerasan, namun sekarang mencoba berdamai dengan semua. Lalu ada ibu yang mencari identitas dirinya, siapa dia, sebagai diri, sebagai luar diri, sebagai representasi teks, sebagai gagasan, sebagai makhluk sosial, spiritual dan sebagainya. Ada pula yang sudah berada dalam tahap spiritual tinggi namun juga masih banyak belajar. Bahkan ada yang sudah hampir selesai, namun belum selesai. Semua masih dalam pencarian yang tidak berhenti. Mengapa tidak berhenti? Karena drama tidak berakhir begitu saja ketika semua berakhir, sebab tak pernah ada batas jelas antara awal dan akhir, bahkan jika selama ini diduga bahwa kematian adalah akhir, justru sebaliknya, kematian adalah awal. Bagi perjalanan malam yang lalu, 18 dan 19 Desember 2019, empat naskah drama yang saya tulis, yaitu “Schizophrenia”, “A Mother and A Monster”, “My Dearest Sister” dan “Because I am Who I am”, dipentaskan berturut turut oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha. Keempat naskah itu memiliki benang merah yang sama, bahwa seorang ibu adalah pusat energi kehidupan. Dalam “Schizophrenia” misalnya ditampilkan karakter seorang Ibu yang merawat anak dengan sakit schizophrenia dalam keterbatasan, miskin dan sendiri, tanpa suami. Seorang ibu yang mengalami perjuangan batin untuk mendamaikan dirinya dan juga anaknya yang berjuang dengan sakit, identitas dan cinta kepada lelaki.“A Mother and A Monster” juga bicara soal isu Ibu yang kompleks. Ada Ibu yang membuang anaknya, ada ibu yang mengangkatnya lalu terjebak prostitusi. Anak itu bertumbuh dalam identitas yang hilang sejak sang ibu mengaku sebagai pelacur untuk membiayai hidupnya. Ia pergi dan mencari jati dirinya. Lalu di perjalanan ia kenal cinta, pengetahuan, kemarahan, kecemburuan dan sebagainya. Namun ia akhirnya bertemu ibu kandungnya dan akhirnya justru tragis. Hidupnya justru diakhiri ibu kandungnya. Apakah kisah ini imajinasi? Tidak juga. Namun tetap saja kenyataan kadang lebih imajinatif dari imajinasi.“My Dearest Sister” bercerita tentang seorang ibu yang mencemaskan anaknya yang penulis. Ia ingin anaknya normal dan biasa, bukan menjadi seniman. Sang anak memberontak dan malah mencari cinta sejati yang ia temukan pada gurunya, seorang guru juga penyair. Ia tak tahu gurunya adalah kekasih ibunya. Mengejutkan tidak hanya pada karakternya tapi pada kisahnya. Tapi hidup adalah kejutan yang memang tiada “Because I am who I am” kisah ibu juga tak kalah haru. Sang ibu terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan, dikhianati suaminya berkali kali dan mencoba tegar. Anaknya pergi dan lalu terjebak cinta, hamil sebelum menikah. Dan kisah belum berakhir. Benang merah cerita 11 Ibu maupun 4 ibu dalam naskah berbahasa Inggris memiliki hal hal universal yang sama. Bahwa seorang ibu tak pernah selesai. Di kehidupan dan di gagasan, di imajinasi dan di kenyataan. Bahwa yang selalu harus diingat adalah pertanyaan pertanyaan tentang keputusan keputusan yang diambil. Saya misalnya selalu memelihara kegelisahan dan memelihara pertanyaan agar terus bisa bergerak. Sebagai ibu, sebagai perempuan, sebagai sebuah sesi di Ubud Writers and Readers Festival yang lalu, ada satu sesi bertema Enlightment for All. Dalam panel itu kami membahas spiritualisme. Apa konsep spirituality dalam hidup perempuan menjawab spiritualisme adalah cara menjaga keseimbangan peran antara menjadi ibu, perempuan, penulis, pengajar, pengelola komunitas dan bagian dari sistem sosial adat sesi “Writing Out of Margin” di Macau China saya juga mendapat kesempatan berbicara soal perempuan yang berada di luar margin. Margin adalah batas. Namun batas itupun didefinisikan menurut perspektif yang menentukan. Margin bagi kita barangkali bukan margin bagi orang lain. Atau margin bagi orang lain bukanlah margin bagi kita. Jadi menulis adalah bagian dari mendobrak margin atau menciptakan margin Nepal, ketika saya bicara soal puisi, saya juga membahas tema perempuan Bali. Soal keseimbangan dan juga soal kesenjangan. Tapi di semua hal itu saya menegaskan bahwa perempuan Bali selalu bergerak menuju keseimbangan. Terutama spiritual. Bagi orang lain barangkali spiritualisme adalah melulu pergi ke pura dan bersembahyang tapi spiritualisme dalam konteks saya adalah menjaga spirit menjaga keseimbangan peran, sambil berpikir dan bertanya, untuk terus bergerak. Menulis dan berkarya adalah sebuah upaya, sebuah cara dari banyak cara lainnya untuk menjadi “the creator”. Ibu adalah pencipta sejarah yang terus menerus harus Hari Ibu. [T]
lirik lagu ibu ceritakan padaku